Berbicara Leadership di Asia Leader Consortium

Pemimpin terlahir dari lahir atau dibentuk?

 

Ada yang bilang dari lahir ada yang tidak. Darimana pun asal pemimpin, karakter kepemimpinan tidak melihat status maupun latar belakang. Leadership harus dimiliki semua orang, khususnya dalam memimpin kehidupan diri sendiri.

 

Di Asia sendiri potensi ini masih belum maksimal, karena itu melalui Pan-Asia Social Design by Asian Leader bekerja sama dengan Podomoro University meluncurkan dan menginisiasi Asian Leader Consortium. Pertemuan ini diharapkan mampu mendorong leadership khususnya di wilayah Asia dengan beragam latar belakang budaya.

 

Dengan banyaknya kesempatan untuk mendorong potensi dalam diri anak – anak muda di jaman sekarang. Nilai leadership harus tetap dijaga untuk kestabilan masa sekarang dan akan datang. Pertemuan ini dilaksanakan pada tanggal 8 Mei 2018 bertempat di Podomoro University. Diikuti oleh 12 pembicara yang terdiri dari duta besar, senior pendidikan, dan ekspertis yang membicarakan membahas nilai kepemimpinan.

 

Diawali oleh wartawan senior, Desi Anwar menekankan sejak awal bahwa pemimpin dimulai dari diri sendiri. Mendorong diri sendiri untuk menggapai tujuan atau tantangan. Sebab pada akhirnya bukan karena kita yang merasakan ingin menjadi pemimpin, namun orang-orang yang akan datang dengan sendiri nya untuk mengikut kita. Namun jika kita sendiri tidak mampu memimpin diri sendiri bagaimana kita bisa memimpin orang lain?

 

HS Dillon mendorong agar pemimpin di masa depan memiliki nilai sosial dalam leadership-nya. Sebab mengerti berbagai latar belakang budaya, akan membantu mindset untuk implementasi leadership di masyarakat umum. Kurangnya nilai sosial dalalm leadership membatasi potensi-potensi yang sebenarnya bisa dicapai bersama dalam keberagaman.

 

Pembicara dari duta besar Denmark yaitu H.E Rasmus menekankan pada topik techplomacy. Gabungan dari dua kata technology dan diplomacy. Techplomacy harus menjadi cara pikir dan bertindak baru dalam berdiplomasi. Memanfaatkan data-data teknologi untuk mengengage strategi dan keputusan. Tidak sekedara memanfaatkan teknologi namun juga memberdayakan teknologi untuk membentuk lingkungan.

 

 

Selain dari para pemimpin, para influencer dan ekspertis turut memberi penjelasan nilai-nilai yang dapat menambah kebaikan dari karakter leadership. Nilai-nilai ini berasal dari pengalaman mereka bertahun-tahun menggeluti industri masing-masing.

 

Hary Darsono sebagai salah satu desainer terkenal menjelaskan poin-poin mindset seorang kreatif seperti belajar dari kesalahan, berempati, menjalani keseruan tiap hari. Tentu saja kreativitas harus di cari bukan hanya menunggu. Mindset yang terpenting adalah menciptakan market itu sendiri. Tidak selalu masuk atau mengadaptasi suatu market; kita yang kreatif yang menciptakan market tersebut.

 

 

Ada pula pembelajaran metode bekerja bentuk Agile oleh Jonathan Kine. Kemudian, mantan pegulat Stig Traavik dan pelatih kebugaran Sari Mardsen menjelaskan nilai-nilai dari kebugaran yang dapat diimplementasikan dalam karakter leadership. Danny Johannes dari bidang marketing, juga menjelaskan bahwa setiap orang harus memiliki nilai Person In Charge = Positive-Initiative-Creative dalam leadership.

 

Leadership tidak pernah dimulai dari orang lain, leadership dimulai dari diri sendiri. Menjadi pemimpin kreatif harus juga melakukan empowerment agar orang lain dapat menjadi leader berikut. Sehingga teladan baik dapat ditularkan kepada banyak orang, juga menjadi kebaikan dan revolusi mental anak muda

 

(Writer/Editor: EMT)

17 May 2018