BISA MENYATUKAN BANGSA

Senin (28/3) pagi Edvi Gracia membawa puluhan peserta seminar The World of Indonesian Gastronomy menembus lorong waktu, mengembara ke masa silam. Edvi adalah dosen Program Studi (Prodi) Bisnis Perhotelan, Podomoro University. Seminar itu digelar di kampus Podomoro University.

Materi yang dibawakan Edvi bertopik The Origin of Gastronomy. Melalui materinya, ia mengajak peserta seminar berkenalan dengan tokoh-tokoh gastronomy masa silam. Ada Marcus Gavius Apicius. Ia tokoh gourmet yang mendokumentasikan resep-resep dari tradisi kuliner masyarakat kelas atas Romawi, semasa kerajaan itu dipimpin Kaisar Tiberius.

Dari barat, Edvi beranjak ke timur. Ia mengajak peserta berpindah ke China. Di sana, pada abad ke-18, ada Yuan Mei yang menulis buku Suiyuan Shidan. Papar Edvi, "Buku ini berisi catatan tentang tradisi masakan di era Dinasti Qing."


Edvi Gracia (berdiri) mengajak peserta seminar gastronomy menjelajah hingga ke masa silam, Senin (28/3) lalu di kampus Podomoro University.

Edvi kemudian menggiring peserta beranjak maju satu abad. Ia membawa mereka ke Prancis untuk berkenalan dengan Chef Brillat-Savarin. Sebagai chef, Savarin mendokumentasikan menu-menu Prancis era klasik. "Ia kemudian menuangkan catatannya dalam buku Philosophy du Gout, atau dalam bahasa kita artinya Filosofi Cita Rasa," urai Edvi. Savarin terkenal dengan ungkapannya, "Tell me what you eat, and I will tell you what you are."

Jadi, apa kaitan cerita tadi dengan gastronomy? Sederhana. Gastronomy adalah pengetahuan, kebiasaan dan perilaku yang terkait dengan makanan dan minuman ketika "makan karena lapar" sudah tidak menjadi masalah utama. Itulah arti gastronomy.

Pada sesi berikutnya giliran Indra Ketaren membahas Kedaulatan Gastronomi Indonesia. Indra adalah pendiri dan Presiden Indonesia Gastronomy Association (IGA), sebuah asosiasi yang anggota terdiri dari kalangan pencinta, pemerhati dan penikmat kuliner Indonesia. "Di IGA kami mendiskusikan masakan Indonesia dari aspek sejarah, budaya, dan lanskap lingkungan, serta metode memasak suku bangsa yang ada di dalamnya. Ini termasuk etno kuliner peranakan Tionghoa, India, Arab dan Belanda," papar Indra, panjang lebar.


Indra Ketaren (berdiri): "Kita belum punya kedaulatan pangan. Ini tercermin dari belum adanya aturan hukum tentang kebijakan pangan."

Bicara soal kedaulatan gastronomy Indonesia, Indra mengeluh. Katanya, "Negeri kita seakan-akan tidak punya kedaulatan terhadap makanan." Ini tercermin dari tiadanya aturan hukum tentang kebijakan makanan. Misalnya, belum adanya UU tentang Makanan (adanya baru UU Pangan) dan UU tentang Hak Cipta khusus untuk makanan.

Indra juga menyoroti soal lemahnya promosi makanan dan minuman Indonesia di pentas global, belum dipetakannya makanan-makanan lokal, dan masih terabaikannya pahlawan-pahlawan yang terkait dengan lingkungan gastronomy Indonesia, seperti petani, nelayan, para pelaku usaha di industri pengolahan pangan, dan sebagainya.

Kenyataan itu membuat Indra prihatin. Padahal, lanjut Indra, nilai bisnis makanan Indonesia sangat fantastis. "Permintaannya jauh lebih besar ketimbang pasokannya," ungkap Indra.

Untuk itu Indra menyarankan perlunya langkah-langkah bersama guna menghimpun kekayaan gastronomy Indonesia. Di dalam makanan, di sana ada wawasan kebangsaan, ada seni, dan ada sumbangsih etno kuliner, seperti Tionghoa, Arab, Belanda dan India. "Kalau bisa disatukan, gastronomy bisa menjadi elemen yang membentuk kerukunan dan kesatuan Indonesia," pungkas Indra.


Chef Anton Harianto (kanan) mewakili Prodi Bisnis Perhotelan menyerahkan souvenir kepada Indra Ketaren.


Seluruh pembicara, peserta dan tamu undangan berfoto bersama seusai seminar The World of Indonesian Gastronomy.

Itulah materi yang dibahas dalam seminar gastronomy Indonesia. Seminar hari itu diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan yang disampaikan oleh Chef Anton Harianto dan foto bersama.

Sampai jumpa pada seminar berikutnya.

28 March 2016