Kebudayaan, Paradigma dan Arsitektur

Sebagai bagian dari khasanah kehidupan manusia, arsitektur merupakan suatu produk budaya. Mempelajari arsitektur tidak mungkin lepas dari mempelajari kebudayaan manusia dari waktu ke waktu, dengan segala hal yang mempengaruhi bentukan arsitektur sebagai artifak kebudayaan.

Dalam bidang pendidikan arsitektur, adalah suatu kewajiban untuk mempelajari sejarah dan perkembangan arsitektur dengan harapan agar arsitek - sebagai profesi produk pendidikan arsitektur - setidaknya menguasai bagaimana suatu karya mempunyai ruh dan konsep yang sesuai dengan budaya manusia sebagai pengguna arsitektur tersebut.

Program studi Arsitektur Podomoro University menyelenggarakan seminar sejarah Arsitektur yang membahas mengenai hubungan kebudayaan dan paradigma dalam manusia berarsitektur pada 8 Juni 2016 lalu. Seminar ini diselenggarakan dengan tujuan untuk memperluas wawasan peserta seminar akan keterkaitan kebudayaan dan Arsitektur serta dapat belajar dari kasus-kasus yang ada dalam ranah sejarah perkembangan Arsitektur.  Diharapkan dari seminar ini peserta dapat menambah kemampuan dalam memperdalam bidang teori Arsitektur sebagai dasar dari pekerjaan perencanaan dan perancangan.

Seminar ini menghadirkan pembicara yang kompeten khususnya dalam bidang sejarah, kebudayaan dan Arsitektur, seperti (1) DR. Raziq Hasan, MT, (2) DR. Yuke Ardhiati, MT, dan (3) Doni Fireza, ST, MT.  DR. Raziq menyampaikan bahwa kebudayaan adalah bagian yang tidak terlepas dari Arsitektur, bahkan Arsitektur adalah bagian dari budaya manusia seiring dengan perkembangan paradigma zaman yang merubah pola pikir manusia tentang kebutuhan dan keinginan akan kegiatan meruang.

Sementara DR. Yuke menyampaikan bahwa dalam perspektif Arsitektur sebagai panggung, maka Indonesia juga merupakan panggung Arsitektur akibat perubahan kebudayaan dan paradigma berpikir dari penguasanya. Soekarno sebagai founding father Indonesia berpikir kemudian membuat panggung Arsitektur yang khas di kota Jakarta, sementara Soeharto lebih kepada wilayah-wilayah lain serta mempunyai pendekatan berbeda dalam berarsitektur sebagai panggung kekuasaannya. Lain halnya dengan presiden Joko Widodo yang mempunyai program panggung Arsitektur yang melibatkan masyarakat khususnya masyarakat Arsitektur di Indonesia.

Sedangkan Doni menyampaikan materi mengenai peran kepercayaan dan agama pada perencanaan dan desain lansekap sebagai bagian tak terpisahkan dari Arsitektur. Seiring dengan pernyataan DR. Raziq pada makalahnya bahwa Arsitektur dalam kebudayaan tradisional awalnya adalah milik agamawan karena konsep-konsep filosofis berawal dari sini.

Seminar yang dimoderatori oleh Ibu Yaseri Dahlia Apritasari ini, selain dihadiri oleh mahasiswa Arsitektur Podomoro University, juga dihadiri mahasiswa dari berbagai Universitas, seperti Universitas Mercubuana, Universitas Budi Luhur, Universitas Bina Nusantara, Universitas Gunadarma dan Universitas Pancasia Jakarta.

Di sesi tanya jawab yang berlangsung cukup aktif dan interaktif ini, peserta banyak bertanya mengenai pengaruh perjalanan perkembangan kebudayaan kepada desain arsitektur, peran panggung arsitektur Indonesia dalam membentuk arsitektur Indonesia hingga pada peran seorang arsitek lansekap dalam keseluruhan desain arsitektur.

 

Foto bersama peserta dan pembicara pada seminar sejarah arsitektur: "Kebudayaan, Paradigma dan Arsitektur"

 

Penyerahan kenang-kenangan kepada DR. Yuke sebagai salah satu pembicara seminar

 

Penyerahan kenang-kenangan kepada DR. Raziq sebagai salah satu pembicara seminar

 

Foto bersama moderator dengan para pembicara seminar

 

Suasana saat sesi tanya jawab di seminar berlangsung

 

10 June 2016