Live Design Discourse : Kolaborasi, bukan Kompetisi

Bagaimana jadinya jika ada 4 arsitek dari 4 negara berbeda bersatu untuk membuat desain sebuah bangunan ?

 

Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada Jeremia Pasaribu (mahasiswa Podomoro University jurusan Arsitek angkatan 2015), maka jawabannya adalah : “Seru!” Karena itulah yang terjadi ketika dia terpilih menjadi peserta Live Design Discourse di Bangkok, Thailand, pada tanggal 30 April s/d 4 Mei 2018 yang lalu.

 

Live Design Discourse (LDD) adalah sebuah lokakarya (workshop) arsitektur yang diselenggarakan oleh 4 asosiasi arsitek dari 4 negera : IAI (Indonesia), SIA (Singapura), PAM (Malaysia) dan ASA (Thailand). Di dalam menyambut MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) dan AFTA (ASEAN Free Trade Area), keempat asosiasi arsitek tersebut menawarkan konsep kolaborasi alih-alih kompetisi. Di momen setiap orang di negara-negara ASEAN bebas bekerja di mana saja, di situlah muncul kesempatan untuk berkolaborasi. Namun yang sering di tonjolkan dalam konsep AFTA dan MEA justru kompetisi, dimana menambah persaingan antara negara ASEAN dibandingkan untuk berpikir kolaborasi. Oleh sebab itu, LDD menjadi sebuah ajang bagi para arsitek muda dan mahasiswa jurusan arsitek untuk berlatih berkolaborasi dengan para koleganya dari negara lain di lingkup ASEAN.

 

Acara LDD sendiri sudah dilaksanakan dalam 4 seri:

  • Seri pertama di Kuala Lumpur pada tanggal 25-27 Juli 2017
  • Ke-2 di Singapura tanggal 9-13 Oktober 2017
  • Ke-3 di Surabaya tanggal 18-24 Februari 2018
  • Ke-4 di Bangkok (Thailand) 30 April – 4 Mei 2018

 

LDD yang diikuti Jerry adalah LDD seri k-4 dengan bertemakan “The Bangkok Dock Company”. Ada 4 kelompok arsitek yang menjadi peserta. Masing-masing kelompok terdiri dari 4 orang dari negara berbeda. Jerry berada di kelompok 4 bersama dengan: Tzu Yin Ho (Singapura), Watcharapohon Chimruang (Thailand), dan Hai P’ng Teow (Malaysia).

 

The Bangkok Dock Company merupakan galangan kapal yang berada di daerah Wat Yanwa Bangkok yang menghadap ke sungai Chao Phraya. Galangan kapal ini dibangun pada tahun 1865 oleh kapten Inggris John Bush. Angkatan laut Thailand mengakuisisi galangan kapal ini sejak tahun 1957. Seiring berjalannya waktu, aktivitas galangan kapal ini semakin berkurang. Di sekeliling galangan bermunculan kios-kios dan pertokoan. Bahkan sekarang galangan tersebut lebih banyak digunakan sebagai pasar lengkap dengan aktivitas hiburan.

 

Lokasi Bangkok Dock Company

 

Perubahan fungsi galangan ini justru disambut baik oleh masyarakat Bangkok. Bangkok Dock Company telah berubah menjadi Bangkok Docklands Market. Tempat ini menjadi favorit kalangan muda Bangkok sebagai tempat hiburan dan tempat kongkow (hang-out). Penataan Bangkok Docklands Market inilah yang menjadi proyek LDD seri ke-4. Setiap kelompok di beri tugas untuk membuat desain revitalisasi Bangkok Docklands Market. Mereka harus mendesain pusat belanja dan taman hiburan dengan memanfaatkan galangan kapal tersebut. Namun desain tersebut tidak boleh merusak nilai histori dari bangunan yang sudah ada.

 

Suasana Bangkok Dockland Market (Sumber Google Map)

Desain Bangkok Docklands Market karya Kelompok 4 (Foto : dok. Jeremia Pasaribu)

 

Dengan waktu sangat terbatas (hanya 48 jam), setiap kelompok yang terdiri dari 4 orang yang baru saling kenal dan datang dari negara berbeda harus bisa berkolaborasi secara efektif untuk menghasilkan desain yang terbaik. Sebagai seorang mahasiswa arsitek, Jerry belajar banyak dari kegiatan LDD ini. Selain kemampuan teknis, kemampuan berkomunikasi dan membangun kerja sama diperlukan dalam kerja sama tim. Inilah intinya kolaborasi.

 

Kegiatan LDD ini seperti ingin memunculkan semangat kolaborasi di era AFTA dan MEA. Negara-negara ASEAN bisa berkolaborasi supaya saling menguntungkan. Bukan hanya saling kompetisi di mana harus ada yang menang dan ada yang kalah. Semoga semangat kolaborasi antara negara ASEAN ini bisa menular ke bidang lainnya.

 

Penulis : Iwan S. Dani /  Editor: EMT

16 May 2018