Melahirkan Sarjana Berjiwa Wirausaha untuk Indonesia Lebih Baik

Indonesia & Wirausaha

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2017 mencapai 5,07 persen. Adapun Produk domestik bruto (PDB) telah mencapai Rp 13.588,8 triliun dan PDB per kapita sebesar Rp 51,89 juta. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2017 menjadi yang tertinggi sejak 2014.

 


Menurut lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi 2017 ini didukung oleh pertumbuhan sektor informasi dan komunikasi sebesar 9.81 persen, diikuti oleh sektor lain yang tumbuh 8.66 persen serta sektor transportasi dan pergudangan sebesar 8.49 persen. Masih banyak potensi dan sektor Indonesia yang bisa dikembangkan. Pada jaman digital sekarang ini, business startup digital sedang tumbuh pesat dengan didominasi oleh generasi milenial. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan Investasi Startup Digital tercepat di Asia.

 


Perilaku konsumen terhadap pengandalan gadget dalam kehidupan menjadi faktor pendorong pertumbuhan startup digital. Ditambah dengan business model yang memungkinkan untuk mendapatkan pendanaan dengan nilai yang tidak kecil. Seperti baru – baru ini, investasi triliunan rupiah di investasikan oleh Google di aplikasi asli buatan Indonesia, Gojek.  Semakin banyak startup digital bertumbuh, ekosistem berbisnis juga berkembang khususnya di dunia digital. Di saat yang sama akan mendorong juga pertumbuhan entrepreneur baru di Indonesia.

 

Peran entrepreneur dalam memajukan bangsa telah dibuktikan oleh negara maju seperti Amerika Serikat (AS), Jepang, Singapura dan Malaysia. Indonesia memiliki potensi besar apalagi didukung oleh sumber dayanya yang banyak dibanding negara-negara tersebut. Padahal untuk membangun ekonomi dan bangsa yang maju, menurut sosiolog David McCleiland sedikitnya dibutuhkan 2% wirausahawan dari populasi penduduk. Berarti di Indonesia, dibutuhkan sekitar 4,8 juta wirausahawan dari jumlah populasi penduduk. Menurut Ketum BPP HIPMI, dibutuhkan setidaknya minimal 1,5% - 2% pengusaha dari jumlah penduduk untuk memajukan Indonesia.


Dalam konteks ini, perguruan atau kampus diharapkan menjadi sumber utama lahirnya wirausahawan baru khususnya di Indonesia.  Berdasarkan sensus BPS tahun 2016, rasio wirausahawan Indonesia telah meningkat menjadi 3,10% dari nilai 1,64%. Namun jika dibandngkan dengan negara Asia lain, Indonesia masih bernilai rendah yakni Malaysia 5%, Singapore 7.2%, AS 14%, Tiongkok 11%, dan Jepang 10%.

 

Pelatihan kewirausahawan perlu dilakukan di kampus – kampus hingga pelatihan kewirausahaan melalui Gerakan Kewirausahaan Nasional bagi pelajar atau mahasiswa. Perguruan tinggi perlu mencontoh kesuksesan Babson College dan Massachusette Institute Technology (MIT) dalam melahirkan wirausahawan baru. Khususnya Universitas MIT yang mengubah kebijakan dari High Learning Institute and Research University menjadi Entrepreneurial University. Meskipun banyak pro kontra dengan kebijakan tersebut, namun dalam waktu 16 tahun MIT mampu melahirkan 4000 perusahaan dari tangan alumni dengan menampung 1.100.000 tenaga kerja dan omset sebesar US$232 miliar per tahun.

 

Peran Perguruan Tinggi di Indonesia


Berkaca dari perguruan tinggi di Amerika, Eropa, Jepang, Singapura, dan Malaysia; yang menyisipkan menyisipkan materi entrepreneurship pada hampir setiap mata kuliahnya. Maka pendidikan di Indonesia harus menggalangkan dan meningkatkan jiwa kewirausahaan. Tentu saja dengan metodologi dan strategi yang membuat mahasiswa tertarik untuk berwirausaha. Ada sejumlah cara untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan. Dalam hal ini, Podomoro University sudah melakukan action dan berperan dalam menyelenggarakan universitas berbasis kewirausahaan. Bekerjasama dengan Babson College, kampus menyelenggarakan pembelajaran kewirausahaan yang up to date dan terbukti berhasil. 


Beberapa program Podomoro University dalam menyelenggarakan universitas berbasis kewirausahaan:


1.    Entrepreneurship Priority
Podomoro University sadar akan pentingnya kewirausahaan dan memberikan mata kuliah kewirausahaan kepada mahasiswa. Hal ini dilakukan dengan program TAEL (Think and Act like Entrepreneurasial Leader)


2.    Pusat Kewirusahaan kampus atau Entrepreneurship Centre yang disebut PUCEL (Podomoro University Center of Entrepreneurial Leader). Melalui PUCEL, banyak diadakan kegiatan seperti seminar, talkshow, short course, lokakarya, workshop, praktik usaha, usaha kerja sama, entrepreneurship expo, entrepreneurship challenge, dan lain-lain.


3.    Pengembangan Program Kewirusahaan Mahasiswa (PKM) adalah program yang di gagas oleh Direktur Kelembagaan Direktorat Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti. Terdapat masa implementasi pada program ini yaitu pemerintah memberi alokasi dana (modal) dalam bentuk subsidi untuk mahasiswa yang mempunyai usaha atau rencana usaha. Tentu saja, program ini ‘dilombakan’ melalui proposal yang dikirimkan oleh mahasiswa dan Perguruan Tinggi yang berminat.


Dari program-program tersebut, Podomoro University telah mengikutsertakan 3 bisnis mahasiswa pada salah satu program yakni Pengembangan Program Kewirausahaan Mahasiswa (PKM). Produk-produknya adalah Bali Banana (kuliner), Cadmus (produk sepatu), Claudio Louis (fashion). Ketiga bisnis tersebut terpilih dari ribuan mahasiwa yang mendaftar ke PKM. 3 produk dari mahasiswa Podomoro University mengalahkan 4000 universitas dan masuk dalam 39 universitas terpilih untuk berpartisipasi dalam pameran kewirausahaan yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti.


Menurut McKinsey Global Institute, di tahun 2030 Indonesia membutuhkan 113 juta tenaga kerja dengan kemampuan tinggi guna mendukung pertumbuhan Indonesia dengan baik. Ditambah juga dari studi oleh PwC menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia ada di peringkat 4 dunia ditahun 2050.


Melihat potensi seperti ini, Podomoro University hadir untuk mendukung ‘lahirnya’ wirausahawan di Indonesia. Podomoro Unviversity sebagai lembaga pendidikan memiliki tempat strategis untuk berusaha membantu Indonesia mewujudkan cita-citanya menuju kekayaan. Menuju Indonesia yang lebih baik yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.​

 


(Writer: Wisnu Dewobroto/ Editor: EMT)

 

Instagram: @podomorouniversity | Facebook: Pomodoro University | Twitter: @PodomoroUniv

26 April 2018