Workshop Pengolahan Air Minum

Workshop kali ini melibatkan sekitar 45 siswa dari kelas X, XI, dan XII MIPA SMA Slamet Riyadi, Karawang.  Kegiatan ini dipandu oleh Pak Made Brunner, Ketua Program Studi Teknik Lingkungan, dibantu oleh Ibu Elsa Sembiring, dosen Prodi Teknik Lingkungan dan Ibu Nilam Atsirina, dosen Perencanaan Wilayah dan Kota, serta guru-guru dari SMA Slamet Riyadi, Karawang.

Pak Made mengajak para siswa untuk mengenal teknologi yang dipakai untuk mengolah air sungai atau danau menjadi air minum. Proses pengolahan secara umum terdiri dari proses kogulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dan desinfeksi.  Koagulasi dapat diartikan sebagai proses pengadukan cepat agar bahan kimia koagulan dapat tersebar merata. Flokulasi merupakan proses pengadukan lambat yang memungkinkan koagulan dapat lebih berikatan dengan partikel tersuspensi dalam air dan membentuk flok atau gumpalan sedimen. Sedimentasi adalah proses dalam aliran yang tenang dan memungkinkan flok yang sudah terbentuk untuk mengendap. Filtrasi adalah proses penyaringan melalui media, sehingga partikel tersuspensi yang tidak mengendap pada proses sedimentasi dapat disaring. Desinfeksi merupakan proses akhir dari penjernihan air dengan menambahkan desinfektan guna menghilangkan mikroba berbahaya.

Kegiatan workshop semakin semarak ketika para kelompok siswa diajak untuk mencoba mengendapkan dan kemudian menyaring  air yang tercampur dengan debu dengan 2 bahan koagulan dan 2 media filtrasi yang berbeda.  Tim dari Podomoro University menyediakan 4 jenis larutan koagulan yang berbeda, yaitu: PAC (Poly-Aluminium Chloride), Tawas, Karat Besi, dan Kaporit. Sedangkan media filter terdiri dari: batu kapur, pasir silika aktif, garnet, antrasit, dan zeolit.  Para siswa ternyata berhasil menyimpulkan bahwa koagulan yang paling efektif berturut-turut adalah: PAC, tawas, karat besi, dan terakhir kaporit.  Kesimpulan ini sesuai dengan teori bahwa ketiga larutan tersebut memang dapat digunakan sebagai koagulan, sedangkan kaporit memang tidak efektif untuk menghilangkan padatan tersuspensi. Kaporit tidak lain adalah bahan untuk desinfektan.  Sementara untuk media filter, yang efektif menghilangkan partikel tersuspensi adalah garnet, pasir silika, dan antrasit. Ketiga media tersebut memang secara umum memiliki ukuran butir yang relatif kecil dan secara umum dipakai sebagai media filtrasi. Zeolit tidak terlalu efektif, karena memang fungsinya sebagai penurun kesadahan air dengan menukarkan kandungan Kalsium dan Magnesium dengan ion Natrium. Batu kapur juga kurang efektif terutama karena butirannya terlalu kasar sehingga partikel dapat dengan mudah lolos di antara rongga antar butir kapur.

Kegiatan workshop ini diharapkan dapat membuat para siswa lebih tertarik dalam dunia sains. Diskusi antara para siswa dengan para pembimbing kerap terjadi untuk mengetahui kesesuaian antara hasil pengamatan dengan teori. Semoga kegiatan serupa dapat kita lakukan lagi dengan topik bahasan lainnya.

 

Bahan kimia yang dipakai sebagai koagulan

 

Siswa dipersilakan untuk memilih media filter yang akan digunakan


 

Kelompok siswa tengah menyiapkan air yang akan dijernihkan

 

Manakah yang lebih jernih? Bahan kimia apa yang dipakai? Beginilah suasana diskusi yang terjadi

 

 

 

14 November 2016